Manfaat Awar-awar si Tanaman Setan

Pohon Awar-awar (Ficus septica Burm. L) Tumbuh Liar di Depan Rumah
Sumber: Dokumen Pribadi

Sebelum masuk ulasan tentang khasiat Pohon Awar-awar atau dalam bahasa ilmiah Ficus septica saya akan bercerita sedikit tentang Pohon ini. Tau gak sih, kebanyakan orang Jawa yang masih ada bekas turunan tradisi kejawen menganggap Pohon Awar-awar sebagai Pohon Setan. Waktu itu saya sedang bersih-bersih di Pekarangan rumah, dan tumbuh Pohon ini, memang jenis awar-awar gampang tumbuh di berbagai lokasi di daerah tropis nan basah, kembali lagi ke cerita, nah saat bersih-bersih saya menemukan Pohon Awar-awar tumbuh rindang dan kata bapak segera di tebas (dipotong habis), pas saya tanya kenapa beliau menjawab, itu Pohon Setan. Begitu jawabnya... saya enggak banyak tanya si, saya langsung cari di google dan dijelaskan pada web http://www.primbon.com/kayu_bertuah.htm memang Awar-awar berkaitan dengan setan namun bukan sebagai Pohon Setan tetapi Pengusir Setan... ini kutipannya..
"Perdu yang banyak tumbuh di tempat agak basah ini hampir tumbuh diseluruh Nusantara, dari akar sampai daun mempunyai kegunaan. Akarnya ditumbuk dengan Adas Pulowaras dan airnya diperas dapat digunakan untuk mengobati keracunan ikan, gadung (Dioscorea hispida dennst.) dan kepiting. Jika ditumbuk dengan segenggam akar alang-alang dan airnya diperas merupakan obat muntah yang sangat manjur.Daun awar-awar sering digunakan untuk menolak setan. Jaman dulu daunnya banyak dimanfaatkan untuk membuat tikee, yaitu daun awar-awar diiris halus kemudian dicampur candu. Dalam bentuk bulatan kecil ini tikee dibakar didalam alat penghisap madat khusus yang dinamakan "bedhutan". Seringkali pohon awar-awar yang sudah tua bagian terasnya memperlihatkan gambar seperti pelet timaha, bagian ini banyak dicari pecinta keris untuk warangka karena diyakini kayu ini dapat meredam keris/tombak yang panas serta menjauhkan dari gangguan jin jahat dan black magic. Yang perlu diingat kayu ini sangat lunak."Jelas kan ??? Percaya atau tidak saya kembalikan ke diri masing-masing.. Mending diulas saja manfaat Awar-awar ini..InsyAlloh berkhasiat..

Sinonim: Ficus hauili Blanco, Ficus casearia F.V. Mueller ex Benth, Ficus kaukauensis Hayata
Familia: Moraceae

Tanaman ini berbentuk pohon atau semak tinggi, dengan ketinggian 1-5 meter. Batang pokok bengkok-bengkok, lunak, ranting bulat silindris, berongga, gandul, bergetah bening. Daun penumpu tunggal, besar, sangat runcing, daun tunggal, bertangkai, duduk daun berseling, atau berhadapan. Helaian berbentuk bulat telur atau elips, dengan pangkal membulat, ujung menyempit, cukup tumpul, tepi rata, 9-30 kali, dari atas hijau tua mengkilat, dengan banyak bintik-bintik yang pucat, dari bawah hijau muda. Bunga majemuk susunan periuk berpasangan, bertangkai pendek, pada pangkalnya, dengan 3 daun pelindung, hijau muda, atau hijau abu-abu, diameter lebih kurang 1,5 cm, pada beberapa tanaman ada bunga jantan dan bunga gal, pada bunga yang lain bunga betina. Buah tipe periuk, berdaging. Waktu berbunga Januari-Desember. Tumbuhan ini banyak ditemukan di Jawa dan Madura, banyak ditemukan di tepi jalan, semak belukar, dan hutan terbuka.

 Pohon Awar-awar di Pekarangan Tetangga
Sumber: Dokumen Pribadi

Nama Daerah
Sirih Popar (Ambon), Tagalolo, Bei, Loloyan (Minahasa), Ki Ciyat (Sunda), Awar-awar (Jawa dan Belitung), Bae-Abar (Madura), Togoboto (Makassar), Dausalo (Bugis), Bobulutu (Halmahera Utara), Tagalolo (Ternate), Papua New Guinea : Omia (Kurerda, Northen Province), Manibwohebwahe (Wagawaga, Milne Bay), Bahueruerue (Vanapa, Central Province).

Kegunaan
Daun
Obat penyakit kulit
Radang usus buntu
mengatasi Bisul
Gigitan ular berbisa
Sesak napas
Akar
Penawar Racun (ikan)
Penanggulangan Asma
Getah
Mengatasi bengkak-bengkak
Pusing
Buah
Pencahar

  Buah Awar-awar
Sumber: Dokumen Pribadi

Cara Pemakaian
Untuk mengobati bisul siapkan 5 lembar daun lalu dicuci dan digiling halus, ditambah garam secukupnya, kemudian digunakan sebagai kompres pada bisul (1-2 kali sehari).

Komposisi
Tumbuhan ini mengandung alkaloida, yaitu antara lain: tilosrebin (hauptalkaloid), tiloforin, septisin, dan antofin, selain itu juga mengandung flavonioda.

Sumber
Kitab Tanaman Obat Nusantara, karya Herlina Widyaningrum dan Tim Solusi Alternatif, Penerbit MedPress, Kota Yogyakarta Tahun 2011.

Subscribe to receive free email updates:

Posting Komentar