MICROTEACHING

Pembelajaran merupakan suatu proses terpadu yang terbentuk dari beberapa unsur untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sebagai seorang pendidik yang tugasnya adalah melakukan pembelajaran diharapkan menguasai:

  1. Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran
  2. Ketrampilan menghadapi siswa
  3. Ketrampilan menggunakan metode dan media secara tepat
  4. Ketrampilan mengelola lingkungan pembelajaran
  5. Ketrampilan menjelaskan pembelajaran
  6. Ketrampilan bertanya
  7. Ketrampilan memberikan penguatan
  8. Ketrampilan menggunakan variasi

Micro teaching merupakan proses pembelajaran yang dilakukan secara sederhana dan singkat bagian demi bagian dengan kontrol yang cermat sehingga diperoleh kemampuan yang tuntas dan optimal. Penyederhanaan pembelajaran mikro teaching terletak pada waktu, materi, jumlah siswa, jenis ketrampilan dasar mengjar, penggunaan metode, media dan lain lain. Dengan kata lain, bahwa perbuatan mengajar itu sangatlah kompleks. Oleh karena itu, dalam rangka penguasaan keterampilan dasar mengajar, calon guru/dosen perlu berlatih secara parsial, artinya tiap – tiap komponen keterampilan dasar mengajar itu perlu dikuasai secara terpisah – pisah (isolated). Berlatih untuk menguasai keterampilan dasar mengajar seperti itulah yang dinamakan micro-teaching (pembelajaran mikro).

Pembelajaran mikro (micro-teaching) merupakan suatu situasi pembelajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yaitu selama 5 – 20 menit dengan jumlah siswa sebanyak 3 – 10 orang (Cooper dan Allen, 1971). Bentuk pembelajaran yang sederhana, dimana calon guru/dosen berada dalam suatu lingkungan kelas yang terbatas dan terkontrol. Dan hanya mengajarkan satu konsep dengan menggunakan satu atau dua keterampilan dasar mengajar.
Berikut ini beberapa definisi tentang Pembelajaran Mikro (Micro Teaching) yang dikemukakan para ahli, diantaranya adalah :

  • Cooper dan Allen (1971), mendefinisikan “Pembelajaran Mikro (Micro – Teaching) adalah suatu situasi pembelajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yaitu selama 5 – 20 menit dengan jumlah siswa sebanyak 3 – 10 orang”.
  • Mc. Laughlin dan Moulton (1975) mendefinisikan “ Micro Teaching is a Performance training method designed to isolated the component part of teaching process, so that the trainee can master each component one by one in a simplified teaching situation”.
  • Waskito (1977) mendefinisikan “Micro Teaching adalah suatu metode belajar mengajar atas dasar performance yang tekniknya dengan cara mengisolasikan komponen – komponen proses belajar mengajar sehingga calon guru dapat menguasai setiap komponen satu per satu dalam situasi yang disederhanakan atau dikecilkan”.

Berdasarkan beberapa Pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa micro teachingatau pembelajaran mikro adalah : “Salah satu praktik mengajar dalam lingkup yang terbatas (mikro) untuk mengembangkan dasar keterampilan mengajar ( Base Teaching Learning ) yang dilaksanakan secara terisolasidalam situasi yang disederhanakan atau dikecilkan”.
Konsep pembelajaran mikro (micro-teaching) dilandasi oleh pokok – pokok pikiran sebagai berikut :

  1. Pembelajaran yang nyata (dilaksanakan dalam bentuk yang sebenarnya) tetapi berkonsep mini/kecil.
  2. Latihan terpusat pada Keterampilan Dasar Mengajar.
  3. Mempergunakan Informasi dan Pengetahuan tentang Tingkat Belajar Siswa sebagai Umpan Balik terhadap Kemampuan calon guru/Dosen.
  4. Pembelajaran dilaksanakan bagi para siswa dengan latar belakang yang berbeda – beda dan berdasarkan pada kemampuan intelektual kelompok usi tertentu.
  5. Pengontrolan secara ketat terhadap lingkungan latihan yang diselenggarakan dalam Laboratorium Micro – Teaching.
  6. Pengadaan Low-Threat-Situation untuk memudahkan calon guru/dosen mempelajari Keterampilan Mengajar.
  7. Penyediaan Low-Risk-Situation yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
  8. Penyediaan kesempatan latihan ulang dan pengaturan distribusi latihan dalam jangka waktu tertentu.

Tujuan umum pengajaran mikro (micro teaching) adalah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa (calon guru/dosen) untuk berlatih mempraktikkan beberapa keterampilan dasar mengajar di depan teman – temannya dalam suasana yang constructive, supportive, dan bersahabat sehingga mendukung kesiapan mental, keterampilan dan kemampuan performance yang ter-integrasi untuk bekal praktik mengajar sesungguhnya di sekolah/institusi pendidikan.
Adapun tujuan khusus pengajaran mikro (micro teaching) antara lain sebagai berikut :

  1. Mahasiswa terampil untuk membuat persiapan mengajar
  2. Membentuk sikap profesional sebagai calon guru/dosen
  3. Berlatih menjadi guru yang bertanggung jawab dan berpegang kepada etika keguruan
  4. Dapat menjelaskan pengertian micro teaching
  5. Dapat berbicara di depan kelas secara runtut dan runut sehingga mudah dipahami oleh audience atau peserta didik
  6. Terampil membuka dan menutup pelajaran
  7. Dapat bertanya secara benar
  8. Dapat memotivasi belajar siswa/peserta didik
  9. Dapat membuat variasi dalam mengajar
  10. Dapat menggunakan alat-alat / media pembelajaran dengan benar dan tepat
  11. Dapat mengamati keterampilan keguruan secara obyektif, sistematis, kritis dan praktis
  12. Dapat memerankan sebagai guru/dosen , supervisor, peserta didik, maupun sebagai observer dengan baik
  13. Dapat menerapkan teori belajar dan pembelajaran dalam suasana didaktis, paedagogis, metodik dan andragogis secara tepat dan menarik
  14. Berlatih membangun rasa percaya diri

Pengajaran mikro (micro teaching) dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan model praktik pengajaran konvensional. Melalui pengajaran mikro (micro teaching), keterampilan mengajar yang potensial dapat diorganisasikan dalam satu penampilan yang utuh. Praktikan akan lebih siap dan terampil untuk mengantisipasi perilaku mengajar yang sebenarnya di kelas. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran mikro (micro teaching) memberikan pengaruh positif dalam melatih keterampilan mengajar di kelas. Brown dan ametrong (1975), mencatat hasil riset tentang manfaat pengajaran mikro (micro teaching) sebagai berikut :

  1. Korelasi antara pengajaran mikro (micro teaching) dan praktik keguruan sangat tinggi. Artinya, calon guru/dosen yang berpenampilan baik dalam pengajaran mikro (micro teaching), akan baik pula dalam praktik mengajar di kelas.
  2. Praktikan yang lebih dulu menempuh program pengajaran mikro (micro teaching) ternyata lebih baik/lebih terampil dibandingkan praktikan yang tidak mengikuti pengajaran mikro (micro teaching).
  3. Praktikan yang menempuh pengajaran mikro (micro teaching) menunjukkan prestasi mengajar yang lebih tinggi.
  4. Bagi praktikan yang telah memiliki kemampuan tinggi dalam pengajaran, pengajaran mikro (micro teaching) kurang bermanfaat.
  5. Setelah mengikuti pengajaran mikro (micro teaching), praktikan dapat menciptakan interaksi dengan siswa secara lebih baik.
  6. Penyajian model rekaman mengajar lebih baik daripada model lisan sehingga lebih signifikan dengan keterampilan mengajar.
Link Video Microteaching FKIP UMS 2014
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26  

Ini Salah satunya penampilan Microteaching dari Mawapres UMS 2014 Endang Rahmawati

Subscribe to receive free email updates:

Posting Komentar